November 13, 2010

11 Keistimewaan Islam

السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Ada 2 wasiat Allah buat manusia:

1. Wasiat Khusus

Yaitu wasiat Allah yang disampaikan buat anak-anak Ibrahim melalui Nabi Ibrahim A.S.

Sebagaimana firman Allah:
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (QS. 2 : 132)


2. Wasiat Umum

Yaitu wasiat Allah untuk seluruh orang beriman, sebagaimana Firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. 3 : 102)

Dalam 2 wasiat tersebut, Allah mewasiatkan agar kita jangan mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Ayat-ayat ini juga bisa menjawab syubhat yang didengung-dengungkan oleh Kaum Liberal yang menyatakan semua agama sama. Kalo memang sama, kenapa Allah hanya menyuruh kita untuk memeluk agama Islam???

Berikut saya sampaikan 11 Keistimewaan Islam agar kita lebih yakin memeluk agama ini, dan tidak menjual aqidah kita hanya untuk mendapatkan nikmat dunia belaka. Naudzubillahi min dzalik.

1. Lafadz Islam diberikan langsung oleh Allah SWT.


Allah berfirman: "Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam..." (QS. 3 : 19). Hal ini berbeda dengan agama lain yang namanya berdasarkan nama orang, nama tempat, dan nama-nama lainnya yang berhubungan dengan agama itu. Misal Nasrani yang diambil dari nama tempat yaitu Nazareth, Budha berasal dari nama Sidharta Gautama Budha, dan lain sebagainya.

2. Islam menghapus seluruh dosa dan kesalahan bagi orang kafir yang masuk Islam.

Hal ini berdasarkan Firman Allah:

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu : "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu ." (QS. 8 : 38)

3. Islam menjadi sebab terhindar seseorang dari API NERAKA.


Rasulullah bersabda, "Tidak akan masuk Neraka barang siapa dalam hatinya ada iman walaupun seberat biji sawi." (HR. Muslim).

4. Islam adalah agama dalil.

Pada waktu jaman Rasulullah SAW masih hidup, setiap permasalahan selalu menunggu dalil atau wahyu dari Allah SWT. Islam bukan agama opini, dalam menafsirkan Al-Quran, kita diharuskan menafsirkan berdasarkan pemahaman para Sahabat yang langsung didapat dari Rasulullah SAW.

Diriwayatkan pula dari Jundab, dia berkata, Rasulullah bersabda, "Siapa saja yang berbicara mengenai Al Qur'an dengan pendapatnya sendiri kemudian benar maka ia tetap dianggap salah" (HR Abu Dawud, HR At Tirmidzi)

Apapun yang disampaikan oleh Rasulullah SAW pasti berdasarkan wahyu, karena Allah berfirman:
"Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (QS. 69 : 44-46)

5. Islam menghapus agama samawi yang lainnya.


Allah berfirman:
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. 3 : 85)

6. Hukum Islam berlaku untuk semua lapisan umat.

Ada kisah wanita yang termasuk kaum berada yang mencuri yang tetap mendapat hukuman potong tangan.
Hadis yang diriwayatkan oleh penyusun hadis termasyhur yaitu Muslim, adalah sebagai berikut:

“Bersumber dari Aisyah isteri Nabi Saw, sesungguhnya orang-orang Quraisy dibingungkan oleh masalah seorang wanita Makhzumiyah yang kedapatan mencuri, sekalipun ia mengingkarinya. Mereka memperbincangkan, siapakah yang berani menyampaikan masalah ini kepada Rasulullah.

Dengan serentak mereka mengusulkan, ‘Tidak ada yang berani melakukan itu kecuali Usamah, orang yang dikasihi Rasulullah.’ Maka dibawalah wanita tersebut menghadap Baginda Rasul.

Mendengar permintaan pengecualian hukuman atas wanita itu, wajah Rasulullah berubah memerah. Beliau bersabda, ‘Jadi kamu ingin memintakan syafa’at terhadap salah satu hukum Allah?’ Usamah bin Zaid menjawab, “Maafkan aku wahai Rasulullah’.

Satu sore Rasulullah berdiri dan berpidato. Setelah memanjatkan puja puji kepada Allah sebagaimana mestinya, beliau kemudian bersabda, ‘Syahdan. Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, manakala di antara mereka ada orang mulia yang mencuri, mereka membiarkannya saja. Tetapi jika orang lemah yang mencuri, maka segera dihukum. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sesungguhnya aku apabila mendapati kenyataan Fatimah puteri Muhammad mencuri, maka akan aku potong tangannya’.Kemudian Rasulullah Saw tetap memerintahkan untuk memotong tangan wanita yang mencuri tersebut.

Yunus, ibnu Syihab, Urwah dan Aisyah berkata, ‘Setelah peristiwa itu wanita tadi lalu bertaubat dengan baik dan menikah. Satu hari dia datang menemuiku untuk minta tolong mengajukan hajat permintaannya kepada Rasulullah, dan aku penuhi permintaannya tersebut.’ “

7. Dalam Islam, orang yang khilaf atau lupa tidak dihukum.


Allah berfirman:
"...Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. 33 : 5)

8. Islam membahas semua urusan / perkara baik duniawi maupun ukhrowi.

Seluruh urusan dibahas oleh Islam secara detail. Bahkan urusan, maaf, buang air kecil pun juga di atur.
Pernah kaum musyrikin berkata kepada Salman Al Farisi radliallahu anhu: “Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun perkara adab buang hajat”. Salman menjawab: “Ya, beliau mengajarkan kami adab buang hajat”. (HR. Muslim no. 262)

9. Islam saja agama yang sempurna


Allah berfirman:
"... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..." (QS. 5 : 3)

10. Islam menghendaki kemudahan dan sesuai dengan kemampuan.

Allah berfirman:
"...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..." (QS. 2 : 185)

11. Islam untuk semua umat.

Allah berfirman:
"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. 21 : 107)

Hadits shahih Muslim :
Dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari radiyallahu’anh, ia berkata: Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi sebelumku. Semua nabi sebelumku diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada semua manusia yang berkulit merah dan hitam. Dihalalkan bagiku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan kepada seorang pun sebelumku. Bumi diciptakan untukku dalam keadaan suci menyucikan dan sebagai mesjid. Barang siapa yang menemui waktu salat, maka salatlah di tempat ia berada. Aku diberi kemenangan dengan membuat takut musuh selama jarak perjalanan satu bulan. Dan aku juga diberi syafaat.“

Wallahu' alam bishawab

[+/-] Selengkapnya...

Oktober 31, 2010

Mari Silaturahmi

السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Di dalam menjalankan perintah Allah SWT pasti ada hikmah dan kebaikan, namun sebaliknya di dalam melanggarnya terdapat bencana dan kebinasaan. Diantara sekian banyak perintah Allah kepada hamba-Nya adalah perintah untuk menyambung silaturahmi atau kekerabatan baik secara umum dengan sesama umat islam ataupun secara khusus dengan keluarga atau famili.

Allah SWT berfirman (yang artinya):
“ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, mendatangi (memberi) kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajaran “. (QS. An Nahl 90)

Dalam beberapa kesempatan Rasulullah SAW menyampaikan kepada umatnya bahwa mereka harus saling mengasihi, mencintai dan menghargai. Jangan hanya beribadah kepada Allah secara pribadi tapi disamping itu dia menyakiti saudaranya. Sebab tidaklah seorang hamba dikatakan mulia dan benar-benar mantap keimanannya sehingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, 

sebagaimana sabda beliau SAW :
“ Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kalian sehingga mencintai saudara (seiman)nya sebagaimana mencintai dirinya sendiri “.

Bukankah kita pernah mendengar satu riwayat, dimana ada seseorang menceritakan kepada Rasulullah Saw bahwa ada seorang wanita ahli ibadah, suka tahajjud dan puasa sunnah tapi disamping itu dia mengganggu tetangganya, sehingga tetangganya tidak merasa aman dari ulah lidah dan tangannya. Ketika mendengar hal ini beliau SAW memberikan komentar dengan sabdanya :
“ wanita semacam itu tidak ada baiknya, dan dia berada di neraka “.

Demikianlah balasan bagi hamba yang sibuk beribadah secara vertikal kepada Allah dengan sholat, puasa dan seterusnya tetapi dia menyakiti tetangga, kerabat dan saudaranya. Sungguh merugilah dia, merasa sangat dekat dengan Allah karena banyak ibadah, padahal sebab keburukannya kepada saudara seiman menjadikan dia jauh dari Rahmat Allah.

Lebih-lebih yang harus kita perhatikan adalah hubungan kekerabatan atau kekeluargaan kita, sebagaiamana kita diperintah untuk menjaga hak tetangga, maka juga harus diperhatikan hak kerabat yang dekat ataupun yang jauh, jangan memutuskan hubungan itu.

Telah datang kepada kita riwayat-riwayat yang membeberkan bagaimana akhlak dan tindakan Rasulullah terhadap tetangga, kerabat atau sahabat beliau secara umum. Bagaimana beliau duduk bersama mereka, bagaimana beliau mengajak mereka dalam satu musyawarah dan seterusnya. Semua kegiatan kemasyarakatan dan tata kramanya sudah diatur dan dicontohkan sedemikian apik dan indah oleh beliau SAW.

Dalam al Quran al Karim Allah SWT menjadikan orang-orang yang suka menyambung kekerabatan(Silaturahmi) sebagai kelompok yang dipilih dan diridhoiNya, Allah berfirman (yang artinya):
“ …Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk “ (QS. Ar Ra’ad 21).

Pada surat yang sama ayat 25 Allah SWT mengancam dan melarang dengan keras pemutusan hubungan kekerabatan (kekeluargaan), Allah berfirman (yang artinya):
“ Orang-orang yang merusak janji Allah SWT setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk ( Jahannam ) “. (QS. Ar Ra’ad 25 )


Keutamaan menyambung rahim
(kekerabatan)



Rasulullah SAW bersabda :
“ Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir (dengan keimanan yang sempurna), maka muliakanlah tamunya, dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka sambunglah rahimnya (kekeluargaannya), dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka berkatalah yang baik atau diam “. (HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah RA).

Pada hadits diatas Rasulullah menjadikan sarana kesempurnaan iman seorang hamba dengan melakukantiga hal tersebut.

Rasulullah SAW bersabda :
“ Kebaikan yang paling cepat pahalanya (diberikan kepada hamba) adalah kebajikan dan silaturahmi dan kejahatan yang paling cepat diberikan hukumannya ialah kedholiman dan pemutusan hubungan kekerabatan “. (HR. Ibnu Majah dari Sayyidah ‘Aisyah RA).

Silaturahmi disini tidak hanya identik dengan mengunjungi kerabat itu saja, tetapi dengan makna lebih luas, yakni berbuat baik kepada mereka, mendatangi dan menggembirakan mereka dengan kedatangan kita, berlaku lemah lembut dan santun terhadap mereka, menjaga hak-hak mereka, menanyakan keadaan mereka dan lainnya sekalipun mereka berada di tempat yang jauh.

Imam Abu Ya’la meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw sembari bertanya: “ Wahai
Rasulullah perbuatan apakah yang paling Allah cintai? “
, Rasulullah menjawab: “ Beriman kepada Allah “, dia bertanya lagi :”kemudian apa?”, Rasulullah menjawab:” kemudian menyambung ar rahim (kekerabatan)“.

Begitu pula keutamaan menyambung kekerabatan ialah pelakunya akan dipenuhi Rahmat Allah dan dihisab
dengan hisab yang ringan (mudah), sebagaimana diriwayatkan oleh ath habaraniy, Al Bazzar dan al Hakim dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda (yang artinya):
“Ada tiga perkara, barang siapa melakukannya maka Allah akan menghisabnya dengan ringan (mudah) dan dimasukkanNya kedalam surga dengan RahmatNya”. Sahabat bertanya:” Apakah tiga perkara itu Ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda: “ Kamu memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, kamu menyambung kekerabatan dengan orang yang memutuskannya denganmu dan kamu memaafkan orang yang mendholimimu “.

 
Di samping keutamaan diatas, orang yang suka bersilaturahmi, menyambung kekeluargaan atau kekerabatan, dia akan diberikan keberkahan pada rizki dan umurnya, yang mana hal ini adalah harapan setiap hamba, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“ Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hubungkanlah kekerabatannya “ (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan An Nasai dari Anas bin Malik RA)



Ancaman dan Balasan pemutus hubungan kekerabatan





Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):
“ Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.”( QS. Muhammad 22-23 )

Allah akan tulikan telinga mereka dari mendengarkan kebenaran dan Allah butakan matanya dari melihat jalan yang lurus dan petunjuk.

Rasulullah Saw bersabda :
“ Tidak akan masuk surga pemutus (kekerabatan) “
(HR. Bukhori dan Muslim dari Jubair bin Muth’im)

Rasulullah SAW bersabda :
“ Tidak ada satu dosa yang lebih disegerakan hukumannya di dunia kepada pelakunya disamping apa yang Allah simpan untuknya (dari siksaan di akhirat) daripada (dosa) kedholiman dan pemutusan kekerabatan. “ (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Bakar RA.)

Imam Ath Thabaraniy meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah Saw bersabda :
“ …sesungguhnya bau wangi surga akan tercium dalam jarak 1000 tahun, demi Allah tidak akan mendapati bau semerbak surga itu orang yang durhaka kepada orang tua, pemutus kekerabatan, orang tua yang berzina dan orang yang menjulurkan sarungnya (ke tanah) karena angkuh (sombong)“.

Al Imam al Ashbahani dan Bukhori dalam kitabnya Al Adabul Mufrad, menceritakan satu peristiwa dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa, dimana Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba Rasulullah bersabda:” Jangan duduk bersama kita siapa yang memutus kekerabatan”. Setelah itu bangun seorang pemuda lalu menemui bibinya yang dia putuskan kekerabatan dengannya dan meminta maaf, setelah dimaafkan pemuda tadi kembali ke majlis Rasulullah SAW, Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya Rahmat Allah tidak akan turun kepada satu kaum sedang diantara mereka terdapat pemutus hubungan kekerabatan “.

Marilah kita renungi, bilamana Rahmat tidak turun kepada suatu kaum atau orang-orang yang duduk dalam satu majelis lantaran diantara mereka terdapat satu orang yang memutus kekerabatan, maka bagaimana pula keadaan pemutus itu sendiri dan bagaimana murka Allah terhadapnya serta bagaimana Allah memutuskannya dari segala kebaikan.

[+/-] Selengkapnya...

Oktober 16, 2010

Tauladan seorang Anak kepada Ibu

السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Diambil dari kitab al-Kabair, karya adz-Dzahabi)

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah, karya Ibnu Jauzi)

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)

Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)

Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)

Kisah Uwais al-Qorni

Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir”, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”, “Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.” Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)

Sumber : www.muslim.or.id

[+/-] Selengkapnya...

September 10, 2010

Jaringan Islam Liberal

السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
(Tanggapan atas tulisan “JIL, Potensi atau Ancaman?)
Oleh: Abduh Zulfidar Akaha*

Awal bulan September 2002, sebuah harian ibu kota memuat tulisan Dwi Henri Cahyono, berjudul “JIL, Potensi atau Ancaman?” yang secara ringkas, isinya menceritakan apa dan bagaimana Jaringan Islam Liberal (JIL) berikut kiprah mereka dalam upaya ‘membangun’ pemikiran Islam secara benar, tentu saja menurut persepsi mereka. Sebagai pembanding, tidak lupa Dwi menampilkan sejumlah kelompok Islam yang dianggap –oleh JIL sebagai– militan dan fundamentalis, lengkap dengan pemahaman berikut peran serta mereka dalam upaya menegakkan syariat Islam di bumi pertiwi. Namun sayangnya, Dwi tampak malu-malu kepada siapa dia harus berpihak. Sehingga tulisan yang semestinya bagus itu jadi terkesan hambar dan samar-samar. Pasalnya, Dwi menyerahkan seratus persen kesimpulannya kepada pembaca; apakah Jaringan Islam Liberal itu potensi ataukah ancaman?

Sebenarnya, kita semua sepakat, bahwa Islam mengajarkan toleransi dan sikap saling menghormati. Kita juga sepakat, bahwa menyalah-nyalahkan orang lain yang tidak sependapat apalagi sampai melemparkan tuduhan yang bukan-bukan adalah tidak benar dan tidak mencerminkan kedewasaan bersikap. Namun, itu semua harus berada dalam koridor syariat dan bukan dalam masalah-masalah yang sifatnya prinsipil. Dalam arti kata, selama dalam satu permasalahan masih ada dalil dari Al-Qur`an dan sunnah yang bisa dipertanggungjawabkan, tidak sepantasnya jika diributkan. Akan tetapi, manakala masalah tersebut sudah menyimpang dari rel kebenaran, tidak ada dalilnya baik dari Al-Qur`an ataupun sunnah, bahkan sejarah pun membuktikan kekeliruannya, maka dalam hal ini tidak ada lagi istilah toleransi. Inilah yang namanya nyeleneh, dan inilah yang harus diluruskan.

Masalah pluralisme dan inklusivisme, misalnya. Jelas, ini adalah masalah serius yang sulit untuk disepelekan. Apalagi ditoleransi. Menyamaratakan semua agama dan menganggap bahwa semua agama adalah benar, sejatinya merupakan pelecehan terhadap agama Islam –jika yang mengatakannya mengaku Islam. Sebagai seorang muslim yang meyakini kebenaran agamanya, tidak sepantasnya mengatakan bahwa semua agama sama. Sebab, baik Al-Qur`an maupun sunnah Rasul-Nya menegaskan bahwa Islam adalah agama yang paling benar, dan bahwa Nabi Muhammad Saw diutus untuk seluruh umat manusia di dunia, bahkan termasuk jin di dalamnya. Sekiranya agama selain Islam juga benar, kenapa Nabi mesti mengirim surat kepada raja-raja di sekitar jazirah Arab ketika itu dan mengajak mereka untuk masuk Islam? Dan, kenapa pula beliau mesti berkonflik dengan bangsa(t) Yahudi Madinah jika memang agama mereka benar? Dalam hal ini, pemikiran JIL tidak dapat diterima, karena bertabrakan dengan nash qath’i dari Al-Qur`an, sunnah, dan sejarah.

Kemudian, JIL juga mengangkat isu penolakan penerapan syariat Islam di Indonesia. Menurut mereka, penerapan syariat oleh negara berarti melanggar prinsip netralitas negara yang harus menjaga prinsip-prinsip non-diskriminasi dan equality (kesamaan) di antara seluruh warga negara. JIL bersikeras memisahkan agama dari negara. Karena negara dalam pandangan mereka, harus netral dari pengaruh agama apa pun. Sementara, agama harus tetap dipertahankan dalam wilayah privat.

Apa yang mereka katakan ini sebenarnya hanya membuka kedok mereka yang sama sekali buta terhadap Islam. Mereka mengatasnamakan Islam (dengan embel-embel liberal) namun tidak tahu apa itu Islam dan bagaimana sejarah Islam. Karena apa yang mereka khawatirkan, sama sekali tidak terbukti. Sebab, sebagai agama dan negara, Islam sangat menjunjung tinggi asas egaliter (baca; keadilan) dan menjaga prinsip-prinsip non-diskriminasi. Islam tidak pernah pilih kasih dalam menegakkan keadilan dan menerapkan hukumnya. Semua warga negara sama di mata hukum, baik itu muslim ataupun non-muslim. Dan, menolak penerapan syariat Islam berarti sama saja dengan menganggap agama ini tidak lengkap dan sempurna. Selain itu, upaya memisahkan agama dari negara yang mereka usung sungguh berbahaya, karena ujung-ujungnya adalah ingin memisahkan agama dari kehidupan manusia. Inilah yang sejatinya merupakan proyek sekularisme. Alasan penolakan mereka hanya dibuat-buat, diputar-putar, dan apologis, agar terkesan ilmiah.

Yang mengherankan, kenapa mereka yang menyebut dirinya sebagai orang Islam (sekali lagi, dengan embel-embel liberal) menolak penerapan syariat agama mereka sendiri? Mereka menutup mata, bagaimana syariat Islam bisa tegak di Madinah dengan penuh keadilan dan tidak diskriminatif. Padahal, siapa pun tahu, bahwa tatkala Nabi dan kaum muslimin masuk Madinah, mereka adalah minoritas. Artinya, pada saat itu jumlah orang non-Islam lebih banyak. Dan, mereka menerima hukum Islam diberlakukan di tengah-tengah mereka.

Sejarah juga mencatat, bahwa ketika Umar bin Al-Khathab menerima kunci Al-Quds dari pemimpin Nasrani (Safraneus) di Palestina, mayoritas warga di sana adalah Nasrani. Dan mereka dapat hidup aman lagi damai di bawah pemerintahan Islam. Islam menjamin keselamatan mereka dan membebaskan mereka untuk tetap memeluk agama Nasrani. Penduduk Al-Quds yang non-muslim merasa nyaman dan tenteram menjalankan keyakinannya. Harta dan jiwa mereka dilindungi. Bahkan tempat ibadah mereka pun tidak diganggu. Demikianlah Islam, sangat menjunjung tinggi asas egaliter, keadilan, dan tidak diskriminatif.

Kasus tak berbeda juga terjadi di Mesir, Andalusia, Bukhara, dan wilayah-wilayah lain di belahan bumi yang berhasil ditaklukkan oleh pasukan kaum muslimin. Setiap kali pasukan Islam memasuki wilayah baru, syariat Islam diterapkan di sana. Dan sukses! Baik yang muslim maupun maupun yang non-muslim, semuanya menerima hukum Islam ditegakkan. Entah itu umat Islam sebagai mayoritas ataupun minoritas, selama wilayah tersebut berada di bawah kekuasan Islam, syariat Islam pasti diberlakukan di sana. Sungguh, banyak sekali contoh yang ditorehkan oleh tinta emas sejarah, bahwa di mana pun syariat Islam ditegakkan –dengan sebenar-benarnya, di situlah akan didapatkan keadilan, kenyamanan, dan kesejahteraan.

Sekali lagi, dalam hal penolakan JIL terhadap penerapan syariat Islam di Indonesia pun, tidak dapat dibenarkan. Apalagi, jika mereka menyandangkan kata-kata “Islam” di belakang keliberalannya. Lain halnya, jika mereka hanya menamakan diri sebagai Jaringan Liberal, tanpa embel-embel Islam. Mungkin pendapat mereka masih bisa ditolerir. Meskipun sebenarnya, kita jarang mendengar orang non-muslim yang secara tegas menolak penerapan syariat Islam.

Tentang humanisme yang mereka dengung-dengungkan, lebih tepat jika dikatakan bahwa mereka ‘hanya bisa ngomong.’ Masalahnya, yang mereka serang adalah orang-orang yang mempunyai kepedulian tinggi dan terjun langsung ke lapangan turut membantu para korban. Sekelompok orang yang dituduh JIL sebagai militan dan fundamentalis ini justru mempunyai sense of humanisme jauh lebih besar ketimbang JIL yang hanya ngomong doang. Sedangkan JIL, sama sekali tidak pernah terdengar kepedulian mereka terhadap masalah Ambon, Maluku, Poso, dan kasus kemanusiaan lain, terutama yang menyangkut orang Islam. Apalagi sampai turun langsung ke tempat kejadian. Lalu, humanisme seperti apa yang mereka inginkan? Mungkin, mereka hanya ingin agar orang-orang Kristen atau non-muslim jangan diganggu dan disakiti. Tapi, biarkanlah kalau mereka (non-muslim) mau menyakiti, bahkan membunuh dan membantai umat Islam. Karena itu adalah hak mereka. Mereka bebas melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan. Kemudian, jika orang-orang Islam bangkit melawan dan bereaksi atas tindakan brutal umat Kristen, maka –bagi JIL– itu adalah salah dan tidak boleh!

JIL juga mengumandangkan kebebasan dengan slogannya yang rancu, “Menuju Islam yang Membebaskan.” Apa yang mereka maksud dengan kebebasan di sini dan membebaskan dari apa juga tidak jelas. Karena mereka hanya mau bebas sendiri dan tidak memberi kebebasan kepada kelompok lain. Mereka membebaskan orang Kristen menyebarkan agamanya dengan cara-cara yang licik, bahkan tidak jarang memaksakan agamanya kepada orang lain yang sudah beragama (baca; Islam). Mereka sama sekali tidak pernah peduli dengan maraknya Kristenisasi di mana-mana yang sangat meresahkan umat Islam. Sementara ketika ada sekelompok umat Islam yang ingin menjalankan ajaran agamanya secara kaffah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, justru mereka gerah. JIL merasa kepanasan terhadap orang Islam yang dianggap ‘bertingkah.’ Lalu, mereka pun tidak memberikan kebebasan kepada umat Islam untuk mengekspresikan keislamannya, baik dalam sikap maupun pemikiran. Dan kemudian, JIL memvonis orang-orang Islam seperti ini sebagai fundamentalis, militan, radikal, garis keras, dan sebagainya.

Dalam hal ini, benar apa yang dikatakan Dwi Henri, bahwa seolah-olah kebebasan hanya milik mereka (JIL) saja. Sementara orang lain tidak boleh bebas. Bahkan –sebagaimana kata Dwi, mengutip situs JIL– mereka melakukan upaya-upaya untuk mencegah dominansi pandangan-pandangan keagamaan yang militan itu. Sebab –menurut JIL– jika pandangan-pandangan yang militan ini dibiarkan, maka bisa jadi dalam waktu yang panjang nanti akan mempunyai akibat yang buruk dalam usaha-usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia.

Dan kini, mereka sedang gencar-gencarnya meneriakkan kawin campur, atau bolehnya seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim. Kali ini, penyelewengan yang mereka lakukan sungguh sangat keterlaluan dan kelewat batas. Karena dalam hal ini, mereka menabrak nash-nash qath’i dari Al-Qur`an dan sunnah Nabi yang melarang seorang muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim. Hukum haramnya kawin campur ini sudah merupakan ijma’ seluruh ulama tanpa kecuali, dari sejak masa Nabi dan sahabat hingga sekarang. Dan dikarenakan sudah sangat jelasnya larangan ini, para ulama tidak merasa perlu membahasnya panjang lebar. Sebab, memang tidak ada yang diperdebatkan. Dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh misalnya, Dr. Wahbah Az-Zuhaili hanya menyinggung sedikit masalah ini, beliau merasa cukup dengan mengatakan bahwa para ulama telah sepakat atas haramnya pernikahan antara seorang muslimah dengan laki-laki kafir. Beliau tidak membahas panjang lebar masalah ini, karena memang tidak ada perbedaan pendapat di sana. Sehingga sangat bisa dimaklumi jika Dr. Zainun Kamal, salah seorang kontributor JIL yang cukup disegani, sama sekali tidak berkutik ketika ditanya tentang dalil-dalil dari Al-Qur`an dan hadits, serta pendapat ulama yang membolehkan kawin campur ini. Sebab, memang Zainun ini tidak berbeda dengan dedengkot JIL lainnya yang hanya berani berkoar jika di hadapan non-muslim atau orang-orang yang mereka anggap awam soal agama. Dan dalam MD edisi lalu, tampaknya kajian tentang haramnya kawin campur ini sudah cukup jelas.

Kemudian, untuk mensosialisasikan pemikiran-pemikirannya yang nyeleneh, JIL sering meneriakkan kata-kata dialog dan diskusi. Namun, mereka hanya berani berdialog dan berdiskusi dengan orang-orang yang sepaham dengan mereka atau orang-orang yang kira-kira dapat mereka ‘tundukkan.’ Sebab, mereka selalu takut, gentar, dan tidak pernah berani (selamanya) jika harus duduk semeja bersama orang-orang semacam Hartono Ahmad Jaiz atau Adian Husaini, misalnya, di hadapan umum untuk mendiskusikan kenyelenehan mereka. Dan, jika mereka senantiasa menghindar untuk sama-sama berdialog dalam satu forum, sulit untuk tidak mengatakan mereka (JIL) sebagai pengecut.

Akhirnya, dengan sikap dan pandangan-pandangan yang melenceng dari rel Ilahi ini, JIL justru berbahaya bagi umat Islam. Karena, diakui atau tidak, selama JIL masih menyandang kata-kata “Islam” dalam keliberalannya, maka yang terjadi adalah pembusukan Islam dari dalam! Dengan demikian, sama sekali tidak ada potensi yang bisa diharapkan dari JIL. Bahkan sesungguhnya keberadaan mereka merupakan ancaman bagi umat Islam. Kalaupun ada potensi JIL, maka itu adalah potensi mengaburkan pemahaman Islam yang sebenarnya. JIL sangat berpotensi untuk membuat umat Islam ragu-ragu akan kebenaran agamanya sendiri. Jadi, JIL adalah ancaman, bukan potensi (kecuali potensi merusak). Dan, tampaknya kita harus memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan JIL yang ter….< (Tulisan ini pernah dimuat di: di Majalah Media Dakwah/Nomor 340/Oktober 2002 M)

[+/-] Selengkapnya...

Agustus 22, 2010

Raja dan Empat Orang Permaisuri

السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pada zaman dahulu ada seorang raja yang memiliki empat orang permaisuri. Namanya raja, tentu ia memilih wanita yang cantik-cantik sebagai permaisurinya. Hanya saja Sang Raja memperlakukan keempat permaisurinya secara tidak adil. Sang Raja mencintai permaisuri termudanya (yang nomor empat) dengan sangat berlebihan. Ia pun selalu berusaha memenuhi segala kebutuhan dan permintaan permaisuri termuda ini hanya untuk memenuhi hasratnya dan meraih cintanya.

Sedangkan kepada permaisuri ketiga, Sang Raja juga mencintainya. Hanya saja Sang Raja merasakan, bahwa permaisuri ketiga ini terkadang meninggalkannya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Lain halnya dengan permaisuri kedua. Ia selalu menjadi tumpuan Sang Raja setiap menghadapi kesulitan. Ia pun selalu mendengarkan dan memperhatikan keluh kesah Sang Raja dalam setiap menghadapi kesulitan. Bahkan tidak jarang, permaisuri kedua ini seringkali terlihat merasa prihatin dengan kesulitan yang dihadapi Sang Raja, suaminya.

Sedangkan permaisuri pertama dan tertua, Sang Raja tidak pernah memperhatikannya. Hak-haknya sebagai permaisuri pun tidak pernah dipenuhi. Kehidupannya terbengkalai akibat korban ketidakadilan suaminya terhadap permaisuri-permaisurinya. Padahal permaisuri pertama ini sangat mencintai Sang Raja. Dan dia pula yang berperan besar dalam menjaga kerajaannya.

Suatu saat, Sang Raja mengalami sakit keras. Ia pun merasakan bahwa ajalnya sudah di ambang pintu. Maut akan segera menjemputnya. Akhirnya Sang Raja berpikir, “Aku sekarang memiliki empat orang permaisuri. Sebentar lagi maut akan segera menjemputku. Aku tidak mungkin pergi ke alam kubur sendirian.” Demikian pikiran yang menggelayut di benaknya.

Sang Raja memanggil permaisuri termudanya yang memang sangat dimanjanya, sehingga semua kebutuhan dan permintaannya selalu dipenuhinya. Raja berkata kepadanya, “Aku sangat mencintaimu melebihi permaisuriku yang lain. Aku telah memenuhi segala keinginan dan permintaanmu. Namun kini sepertinya ajal akan segera menjemputku. Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah kamu rela bersamaku sebagai pendamping dan penghiburku nanti di alam kubur?”

Sang permaisuri menjawab, “Ini tidak mungkin terjadi.” Segera permaisuri itu meninggalkan Sang Raja yang tekulai lemas tidak berdaya itu tanpa menampakkan rasa kasih sayang sedikitpun.

Lalu Sang Raja memanggil permaisuri ketiga dan berkata kepadanya, “Aku mencintaimu seumur hidupku. Sekarang ajalku sudah di ambang pintu. Bersediakah kamu menemaniku di alam kuburku nanti?” Permaisuri ketiga ini menjawab, “Tentu saja tidak. Hidup ini sangat indah. Dan setelah kematianmu, aku akan segera pergi dan menikah dengan laki-laki lain.”

Lalu Sang Raja memanggil permaisuri kedua dan berkata kepadanya, “Selama hidupku aku selalu mengadu dan mengeluh kepadamu dalam setiap kesulitan yang aku hadapi. Telah begitu banyak pengorbananmu untukku. Dan selama ini kamu selalu setia membantuku. Sekarang aku akan bertanya kepadamu, bersediakah kamu menemaniku di alam kubur nanti?” Dengan penuh perhatian dan lemah lembut, permaisuri ini menjawab, “Maafkan aku suamiku. Aku tidak mungkin memenuhi permintaanmu. Aku hanya bisa mengantarmu nanti sampai ke kuburmu.”

Setelah mendengar penolakan ketiga permaisurinya untuk menemaninya di alam kubur nanti, akhirnya Sang Raja merasa susah dan bersedih hati menghadapi detik-detik kematiannya. Tiba-tiba ia mendengar suara dari kejauhan berkata kepadanya, “Aku siap menemanimu di alam kuburmu nanti. Aku akan selalu bersamamu kemana pun kamu pergi.” Sang Raja melihat ke arah suara itu. Ternyata ia permaisuri pertamanya yang sudah kurus kering dan sakit-sakitan karena tidak pernah diperhatikan oleh Sang Raja, suaminya. Akhirnya Sang Raja merasa menyesal telah menelantarkan permaisuri pertama tersebut selama hidupnya. Sang Raja berkata, “Seharusnya selama ini aku memperhatikanmu melebihi permaisuriku yang lain. Seandainya masa lalu dapat kembali lagi kepadaku, tentu kamu akan menjadi permaisuriku yang paling aku perhatikan melebihi permaisuriku yang lain, karena pada saat-saat seperti ini, hanya kamu yang siap menyertaiku ke mana pun aku pergi.” Demikian Raja itu berkata kepada permaisuri pertamanya yang telah kurus kering dan sakit-sakitan akibat ketidakadilannya.

Sebenarnya, kita juga memiliki empat orang permaisuri. Permaisuri keempat adalah jasad kita. Bagaimanapun perhatian yang kita berikan terhadapnya, kita penuhi segala nafsu dan syahwatnya, jasad kita akan meninggalkan kita begitu kita meninggal dunia.

Permaisuri ketiga adalah kekayaan dan harta benda. Ketika kita meninggal, kekayaan dan harta benda kita akan meninggalkan kita dan segera menjadi milik orang lain.

Permaisuri kedua, keluarga dan teman. Berapa pun besar pengorbanan mereka kepada kita selama kita hidup, kita tidak dapat berharap kepada mereka ketika kita meninggal dunia, kecuali tidak lebih dari sebatas mengantarkan kita ke alam kubur.

Sedangkan permaisuri pertama adalah jiwa (ruh) dan hati. Kita tidak pernah memperhatikan jiwa dan hati. Selama ini kesibukan kita hanya untuk memenuhi syahwat kita sendiri, mengumpulkan harta dan memuaskan keluarga dan teman, padahal jiwa dan hati kita saja yang akan tetap menyertai kita nanti di alam kubur. (sumber: sidogiri.net)

[+/-] Selengkapnya...

Masuk Islam karena Puasa

السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


AIkisah, pada suatu hari, seorang intelektual dan sastrawan asal Inggris, Sir Rowland George Allanson, menyaksikan kaum muslimin di Pakistan sedang berpuasa. Ketika itu kebetulan sedang musim panas yang sangat terik.
"Sungguh gila orang-orang ini," bathinnya. "Di panas terik seperti ini mereka tidak minum dan tidak makan!"

Setelah menyaksikan mereka yang berpuasa ternyata bukannya loyo, tapi malah tampak lebih segar dan bahagia, tergeraklah hatinya ingin mencoba merasakan nikmatnya berpuasa.
Maka, ia pun mulai berpuasa, bukan karena iman, melainkan sekadar cobacoba. Pada hari pertama dan kedua, ia merasakan kepayahan yang luar biasa: tangan dan kakinya gemetaran.

Ketika meneruskan berpuasa sampai hari ketiga, ia mulai terbiasa. Dan pada hari keempat ia sudah merasakan kenikmatan berpuasa. Tubuhnya terasa ringan, pikirannya jernih, terbebas dari rangsangan dan keinginan aneh-aneh.

Karena penasaran dengan ajaran puasa ini, ia pun menyelidiki hakikat puasa sebagaimana diajarkan Islam. Sebagai ilmuwan, ia tak puas jika tidak mempelajari sesuatu sampai tuntas. Maka ia pun mempelajari dan meneliti Al-Quran. Pada akhirnya, kepuasannya sebagai ilmuwan terpenuhi: ia menemukan kebenaran sejati. Hidayah Allah SWT pun menetes ke dalam qalbunya, hatinya melonjak bahagia.
"Inilah agama yang selama ini aku cari-cari," katanya.

Maka, pada 16 November 1913, ia pun membaca dua kalimah syahadat, dan mengganti namanya menjadi "Syaikh Rahmatullah Al-Farooq", sementara panggilan sehari-harinya "Lord Headly AlFarooq".
Pengetahuan dan kekagumannya terhadap Islam ia tuangkan dalam sebuah buku yang laris, A Western Awakening to Islam (Fajar Kebangkitan Barat Menyambut Islam).

Sumber : Majalah alKisah No. 16/Tahun VIII.

[+/-] Selengkapnya...

Agustus 21, 2010

Rahasia Hajar Al-Aswad

السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Hajar Aswad adalah “batu hitam” yang terletak di sudut sebelah Tenggara Ka’bah, yaitu sudut darimana Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan jenis batu ‘RUBY’ yang diturunkan Allah dari surga melalui malaikat Jibril. Saya jadi ingin ke mekkah untuk melihat langsung dan menyentuhnya setelah merangkum artikel ini yang berkisar mengenai Hajar Al-Aswad atau Hajar Aswad. Simak rangkuman yang saya kumpulkan ini. Semoga bermanfaat.

Hajar Aswad terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus di kecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan bahkan milyaran manusia sejak Nabi Adam, yaitu jamaah yang datang ke Baitullah, baik untuk haji maupun untuk tujuan Umrah. Harap dicatat bahwa panggilan Haji telah berlangsung sejak lama yaitu sejak Nabi Adam AS. Bahkan masyarakat Jahilliah yang musyrik dan menyembah berhala pun masih secara setia melayani jemaah haji yang datang tiap tahun dari berbagai belahan dunia.

Nenek moyang Rasulullah, termasuk kakeknya Abdul Muthalib adalah para ahli waris dan pengurus Ka’bah. Atau secara spesifik adalah penanggung jawab air zamzam yang selalu menjadi primadona dan incaran para jemaah haji dan para penziarah. Hadist Sahih riwayat Tarmizi dan Abdullah bin Amir bin Ash mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda :

Satu riwayat Sahih lainnya menyatakan:
“ Rukun (HajarAswad) dan makam (Batu/Makam Ibrahim) berasal dari batu-batu ruby surga yang kalau tidak karena sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara timur dan barat. Setiap orang sakit yang memegangnya akan sembuh dari sakitnya”

Hadist Sahih riwayat Imam Bathaqie dan Ibnu ‘Abas RA, bahwa Rasul SAW bersabda:
“Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar”.

Hadis Siti Aisyah RA mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda:
“Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum kiamat”.

Berdasarkan bunyi Hadist itulah antara lain maka setiap jamaah haji baik yang mengerti maupun tidak mengerti akan senantiasa menjadikan Hajar Aswad sebagai ‘target’ berburu …. saya harus menciumnya. Mencium Hajar Aswad!!!.
Tapi apa bisa? Dua juta jemaah, datang dimusim haji secara bersamaan dan antri untuk keperluan dan target yang sama. Begitu padatnya, maka anda harus rela dan ikhlas untuk hanya bisa memberii ‘kecupan’ jarak jauh sembari melafaskan basmalah dan takbir: Bismillah Wallahu Akbar.

Hadis tersebut mengatakan bahwa disunatkan membaca do’a ketika hendak istilam (mengusap) atau melambainya pada permulaan thawaf atau pada setiap putaran, sebagai mana, diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Artinya:
“Bahwa Nabi Muhammad SAW datang ke Ka’bah lalu diusapnya Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar”.

Lanjutannya dikisahkan bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa waktu.

RIWAYATNYA
Dalam riwayat lanjutannya bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa lama dan secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS ketika ia berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih sedikit kurang. Batu yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim AS, yang serta merta sangat gembira dan tak henti-hantinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat ka’bah, batu itu tak segera diletakan di tempatnya. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS menggotong batu itu sambil memutari Ka’bah tujuh putaran.

DIANGKUT DENGAN SORBAN MUHAMMAD

Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M) yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena keempat kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ketempat semula karena pemugaran Ka’bah sudah selesai.

Akhirnya muncul usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Mukhzumi yang mengatakan
”Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini.”

Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang pertama masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum pada masa itu bahwa akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).

Muhammad muda yang organ tubuhnya yaitu HATI-nya pernah dibersihkan lewat operasi oleh Malaikat, memang sudah dikenal luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa jawaban dan tindakan Muhammad terhadap usul itu?

Muhammad menuju tempat pernyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu ditengah-tengah sorban kemudian meminta satu orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya kesudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ketempat semula.

RAHASIA HAJAR AL-ASWAD

Kita semua tahu bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberikan mudorat atau manfaat, begitu juga dengan Ka’bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari batu. Akan tetapi apa yang kita lakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut adalah sekedar mengikuti ajaran dan sunnah Nabi SAW. Jadi apa yang kita lakukan bukanlah menyembah Batu, dan tidak juga menyembah Ka’bah.

Umar bin Khatab berkata “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu”

Allah memerintahkan kita untuk Thawaf mengelilingi Ka’bah dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk mencium Hajar Aswad. Rasulullah juga melakukan itu semua, dan tentu saja apa yang dilakukan oleh beliau pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya : “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS. An-Najm : 53 ) “.

Hajar Aswad berasal dari surga. Batu ini pula yang menjadi fondasi pertama bangunan Ka’bah, dan ia menghitam akibat banyaknya dosa manusia yang melekat disana pada saat mereka melakukan pertaubatan. Tidakkah orang yang beriman merasa malu, jika hati mereka menghitam akibat dosa yang telah dilakukan. Rasulullah bersabda “Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam (HR Tirmidzi).

[+/-] Selengkapnya...